Review: Corat-Coret di Toilet by Eka Kurniawan

Friday, September 25, 2015

Judul : Corat-Coret di Toilet
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 125 halaman

"Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet."

REVIEW

Tidak banyak seorang penulis yang menulis suatu genre di luar selera pasar. Rata-rata penulis yang mempunyai genre di luar pasar tersebut mempunyai pembaca tersendiri, sehingga peminat pasar bacaan pada umumnya enggan melirik karya mereka.


Tapi aku rasa hal itu tidak berlaku pada Eka Kurniawan. Sastrawan yang mulai dikenal namanya bahkan ke luar negri. Aku masuk dalam kategori pembaca yang mengikuti selera pasar pada umumnya. Membaca karya penulis sastra tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Tapi tidak untuk Eka Kurniawan.

Aku juga bukan pembaca yang gemar membaca kumcer. Aku lebih suka novel. Ini adalah pengenalanku pertama akan tulisan Eka Kurniawan, dan ini merupakan kumpulan cerpen. Ada beberapa cerpen yang terdapat dalam buku ini, terdapat 12 cerpen.
Mari kita review satu persatu cerpen tersebut:

Peterpan
Cerita mengenai seorang pemuda yang gemar mencuri buku tapi tidak pernah ditangkap. Dia gemar sekali mencuri buku, berharap adanya perlawanan dari pihak yang berkuasa di negrinya. Dia mulai melakukan aksi demonstrasi untuk menarik perhatian antek-antek diktator.
Cerita ini menggambarkan akan penderitaan rakyat kecil yang seringkali kalah oleh penguasa negri. Eka kurniawan memaparkan dengan bahasanya yang mudah dimengerti.

Dongeng Sebelum Bercinta
Tidak hanya bercerita mengenai politik, Eka Kurniawan pun mampu menuliskan kisah roman dengan bahasa yang gamblang, ceplas ceplos. Dalam kisah ini beliau menceritakan akan nasib seorang perempuan yang akhirnya menikah dengan orang yang tidak Ia cintai. Sudah lama Ia menikah dengan suaminya tersebut, akan tetapi Ia tidak mau bersetubuh dengan suaminya.
Eka Kurniawan juga menceritakan apa yang terjadi dengan perempuan itu sebelumnya. Menghibur. Eka Kurniawan berhasil membuat aku kagum akan tulisannya dijudul ini

Corat-Coret di Toilet
Mengambil judul buku ini berdasarkan salah satu cerita pendek di dalamnya. Menceritakan tentang kebiasaan berbagai macam manusia pengguna toilet umum. Mereka suka sekali menuliskan unek-unek tentang apa pun pada dinding toilet. Hal itu membuat dinding toilet tampak kumuh dan jelek. Beberapa kali dicat ulang ternyata tidak mampu menghentikan hal tesebut. Hal ini digambarkan oleh Eka Kurniawan akan aspirasi rakyat yang sering tidak didengar oleh pejabat pemerintah. Mereka lebih suka menuliskan aspirasinya di dinding toilet. Karena hanya tempat itu yang dapat mendengarkan keluh kesah mereka.
Eka Kurniawan juga menyindir pembaca dalam cerita ini, menyindir pengguna toilet yang suka berlaku jorok dan sembarangan. Dihadirkan dengan bahasa yang ceplas ceplos, cerita ini sangat memikat hati.

Teman Kencan
Eka Kurniawan menulis cerita genre roman lagi dalam buku ini. Berkisah tentang laki-laki malang yang tidak punya pacar sedangkan teman-teman lainnya mempunyai kekasih. Dia malu sekali kalau pada malam minggu hanya berdiam di rumah, sedangkan teman-temannya sedang bersama pacar mereka. Ditengah keputusasaan, Dia menghubungi mantan pacarnya. Hal mengelitik pun terjadi.
Kisah ini lucu sekali.

Rayuan Dusta untuk Marietje
Seorang pemuda pada zaman griliya perang membual bahwa dirinya sudah terbiasa menjadi tulang pukul di Belanda. Hal itu dilakukan agar Dia dapat dipekerjakan di Batavia. Saat itu dia memiliki kekasih bule, tapi tidak dapat menemui kekasihnya karena adanya larangan agar rakyat Belanda tidak memasuki Batavia. Dia anti sekali mempunyai pacar pribumi yang digambarkan dengan sosok yang tidak menarik. Suatu waktu larangan tersebut pun dicabut. Penduduk Belanda dapat mendatangi Batavia. Segeralah pemuda ini menuliskan surat pada kekasihnya untuk bertemu, tapi tidak kesampaian. Ia pun membual lagi.
Kisah yang unik.

Hikayat Si Orang Gila
Cerita ini miris sekali. Di tengah kehidupan suatu daerah yang rata-rata rakyatnya kaya dan berkecukupan, hiduplah seorang laki-laki gila. Hanya saja saat itu sedang terjadi perang. Banyak tentara yang menjarah barang milik rakyat. Rakyat kabur, sedangkan si gila berusaha untuk mencari makanan untuk bertahan hidup. Dia bahkan tidak peduli dengan serangan yang sedang terjadi. Kasian sekali ternyata pada zaman sekarang hal itu masih dapat kita temui. Ada beberapa orang yang menahan lapar dan tidak ada yang peduli akan nasib mereka. Orang lain hanya memikirkan kepentingan diri mereka sendiri.
 
Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam
 Perempuan pada hakikatnya memang tidak boleh keluar pada malam hari. Eka Kurniawan berusaha menceritakan ide kisah itu pada judul ini. Seorang perempuan yang sudah dewasa tidak boleh keluar pada malam hari. Walau hanya untuk pergi jalan-jalan dengan temannya. Dia hanya boleh pergi keluar pada malam hari bersama dengan orangtuanya. Berbagai perlawanan pun dilakukan perempuan itu untuk dapat merasakan kebebasan pada malam hari. Nasib malang yang akhirnya harus dia terima.
Kisah ini benar-benar spesial di mata aku. Sebagai perempuan memang adakalanya tidak menuruti keinginan atau rasa penasaran saja.

Siapa Kirim Aku Bunga?
Seorang pemuda yang miskin akan cinta mendapatkan kiriman bunga terus menerus secara misterius. Dia penasaran siapa yang mengiriminya bunga dimana pun dia berada. Saat Dia melihat seorang penjual bunga, Dia pun bertanya akan orang-orang yang membeli bunganya. Namun tak kunjung mendapatkan jawaban akan sosok pengirim bunga itu. Sampai pemuda ini ternyata jatuh cinta.
Kisah ini dibuat untuk perlahan menemukan rahasia yang terjadi akan pemuda itu, dan aku pun penasaran akan endingnya. Mempunyai pesan moral untuk dapat peduli dengan keadaan orang lain, kisah ini sangat memikat.

Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti
Lagi-lagi Eka Kurniawan menceritakan tentang rakyat kecil yang seringkali mendapatkan akibat akan perbuatan mereka yang hanya dimaksudkan untuk bertahan hidup. Ada seorang pemuda yang suka sekali mencuri roti, hal remeh yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan pada suatu daerah. Hanya saja pengusaha roti yang sebenarnya memiliki banyak sekali roti dan mendapatkan keuntungan akan penjualannya sehari-hari merasa dirugikan. Dia memaksa polisi untuk menangkap Bandit ini.
Miris sekali. Pada zaman ini pun masih terjadi. Dimana rakyat kecil sering menderita karena perbuatan mereka yang sebenarnya sepele, dibandingkan penguasa daerah yang menimbun uang orang lain, semakin kaya, tanpa adanya yang menganggu :(

Kisah dari Seorang Kawan
Kisah ini menceritak tentang persahabatan mahasiswa. Mereka membagi kisah hidup masing-masing. Seorang mahasiswa bercerita mengenai orangtuanya yang hanyalah pedagang kecil dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Orangtuanya bertahan hidup dengan berdagang dan berlawan dengan penimbun beras.
Lagi-lagi aku dibuat kagum akan penuturan Eka Kurniawan yang menggelitik tapi penuh sindirian. Pedagang pun tak luput menjadi ide ceritanya. Ternyata mereka suka sekali berlaku curang hanya untuk memperkecil saingan dalam berdagang.

Dewi Amor
Kisah roman lainnya yang terdapat dalam novel ini. Berkisah tentang remaja yang menyukai seorang gadis dan dengan malu untuk dapat berkenalan dengannya. Dia mengamati segala aktifitas gadis tersebut dan tanpa sadar membuat Dia bersemangat untuk selalu pergi ke sekolah.
Sampai suatu waktu Dia dapat mengutarakan perasaanya pada gadis pujaannya.
Kisah ini mungkin yang paling ringan dibanding judul cerita pendek Eka Kurniawan yang terdapat dalam buku ini. Hal ini menggambarkan ternyata Eka kurniawan tidak hanya mampu menuliskan kisah sastra yang sarat akan politik atau makna, tapi kisah sederhana pun mampu beliau tuliskan. Suka sekali!

Kandang Babi
Buku ini ditutup dengan kisah ini. Seorang mahasiswa yang tinggal di kampusnya untuk bertahan hidup. Dia seringkali berutang hanya untuk makan dan minum kopi serta berpenampilan jorok. Digambarkan Eka Kurniawan dengan sosok yang bodoh, mahasiswa tua tapi masih berada di kampus. Suatu waktu Dia dihadapkan dengan kenyataan bahwa Dia tidak boleh di tempat gudang disisi bangunan kampusnya. Dengan sabar mahasiswa itu mencari tempat baru disetiap sudut kampusnya dan hanya menemukan pos satpam yang tidak layak huni. Tapi masih Dia tempati.
Sampai Dia menyadari tidak mungkin untuk terus ditempat itu. Dia bertemu sahabat lamanya yang sekarang malah sudah menjadi seorang dosen dikampusnya.
Kisah sederhana ini membuatku berpikir ternyata dari ribuan mahasiswa yang ada di suatu kampus, pasti ada sosok mahasiswa yang tidak memiliki hidup mewah. Bahkan untuk makan saja susah. Mungkin tidak hanya dikalangan kampus, ditempat tinggal kita sehari-hari pun gambaran itu dapat dengan mudah dijumpai. Seseorang yang hidup dengan berhutang dan menutupi hutangnya dengan hutang yang baru kembali. Gali lobang tutup lobang yang entah kapan ada ujungnya.

Woah! Aku tidak meyangkan dapat menikmati setiap judul cerita pendek dalam buku ini, Dengan bahasa gamblang, ceplas ceplos bahkan cenderung apa adanya, Eka Kurniawan benar-benar memikat hati. Beliau bahkan menggunakan bahasa yang memang digunakan oleh rakyat yang menjadi ide cerita disetiap judul buku ini.

Aku juga suka sekali cover yang diberikan pada cetakan ini. Simpel, tapi saat diraba pada gambarnya, bertekstur kasar. Aku rasa tidak banyak desain cover yang memiliki desain bagus juga bahannya bagus.

Aku tidak meragukan kalau sekarang Eka Kurniawan menjadi sosok sastrawan yang dikenal oleh negara lain. Bahkan bukunya diterbitkan dengan bahasa yang berbeda.
Untuk yang menyukai genre selera pasar pada umunya dan tidak pernah terbesit untuk membaca kisah sastra apalagi kumpulan cerpen, mungkin buku Eka Kurniawan Corat-Coret di Toilet ini dapat dijadikan pilihan yang tepat.
Tidak menggunakan bahasa berat dan terlalu politik, aku rasa buku ini dapat dibaca oleh segala segmen pasar dari berbagai umur.
Kalian harus baca kumpulan cerpen ini. Banyak sekali makna dan sindirian halus yang mungkin akan menyindir diri kalian sendiri

4* aku berikan.
Selamat menikmati dunia sastra dengan karya yang mengagumkan :)

1 komentar:

Ray Indra said... Reply Comment

Wah keren review-nya, jadi pengen baca. Baru kemarin saya baca juga kumcer Eka Kurniawan yang judulnya Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, itu sama keren juga.

Blog contents © Book world 2010. Blogger Theme by Nymphont.