Review: Coppelia by Novellina A.

Tuesday, September 15, 2015

Judul : Coppelia
Penulis : Novellina A.
Editor : Ruth Pricillia Angelina
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 192 halaman
Cetakan : 1, 2015

Sejak kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh. Namun, tetangga depan rumah sekaligus teman sekelasnya itu tiba-tiba menghilang. Oliver ditinggalkan sebelum sempat membuat gadis itu mengingat namanya.

Sampai ke Jerman, Oliver mencari cinta pertamanya. Hingga akhirnya mereka bertemu. Tetapi, keadaan telah berubah. Nefertiti bukan lagi gadis yang dulu. Penari balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang terlalu mewah untuk ia miliki.

Akankah cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari masa lalunya yang begitu dingin… sedingin kisah boneka CoppĂ©lia yang begitu dicintai ibunya.


REVIEW

Kisah ini langsung dibuka dengan Nefertiti yang sedang di suatu daerah bernama Santorini, Yunani. Hari terakhirnya di daerah tersebut, memaksa Nefertiti untuk pulang ke daerah asalnya Indonesia. Diantar oleh anak pemilik hostel -Theos- tempat Nefertiti tingal selama ini, kisah ini mulai diceritakan.

Nefertiti digambarkan sebagai sosok perempuan aneh dimasa remajanya. Di sekolah dia tidak pernah bicara jika tidak ada yang bertanya, Nefertiti juga tidak mempunyai teman.  Satu-satunya sahabat Nefertiti adalah Mia, seorang gadis tuli yang tinggal dalam sebuah perkampungan didekat rumahnya.
Persahabatan mereka yang kalau dipikirkan secara logika memang tidak bisa, karena bagaimana keduanya dapat berkomunikasi dan memahami satu sama lainnya. Ternyata itu tidak terjadi dipersahabatan mereka, Nefertiti memahami Mia dengan baik, begitu sebaliknya.

Saat di sekolah Nefertiti tidak menyadari kalau ada satu sosok laki-laki yang sering memperhatikannya. Laki-laki itu bernama Oliver, tetangga rumahnya. Oliver seringkali memperhatikan Nefertiti saat di sekolah, Dia berkeinginan untuk dapat suatu saat nanti bicara dekat dengan Nefertiti.

Nefertiti lahir dalam keluarga seniman, memaksa Nefertiti untuk menekuni bidang seni yang ada. Nefertiti mencoba untuk melukis, sayang Dia tidak menemukan bakatnya disana. Dalam suatu kesempatan Nefertiti melihat sebuah tarian yang membuat Dia tertarik untuk belajar lebih dalam untuk dapat menghasilkan sebuah tarian yang indah.

Nefertiti dimasukkan dalam sebuah sanggar balet yang cukup terkenal. Setiap hari Nefertiti berlatih hanya untuk membuat kedua orangtuanya bangga. Sampai akhirnya Nefertiti berhasil ikut dalam sebuah pementasan balet, namun sayang Dia mengacaukan pentas itu. Nyatanya Ibunya tidak pernah akan diri Nefertiti, sekeras apapun Dia mencoba.

"Kebencian adalah ungkapan lain bahwa kita sangat mencintai orang itu. Namun untuk alasan  tertentu, kita memilih membencinya. Hal itu masih lebih baik daripada menganggapnya tidak ada." (halaman 163)

Nefertiti pergi dari kehidupan orangtuanya. Nefertiti bahkan sudah tidak mau peduli lagi akan Ibunya, Dia memendam kekecewaan yang mendalam. Sampai akhirnya saat Dia kembali ke Berlin, Dia bertemu dengan Brian -kakak tirinya- yang mengabarkan kalau Ibunya sudah menghilang. Kisah ini pun dibawa Novellina perlahan-lahan untuk mengungkap misteri Ibunya Nefertiti. Dibantu oleh sosok Oliver, kisah ini semakin menarik untuk dibaca.

Ini bukan pertama kalinya aku membaca karya Novellina, sebelumnya Novellina hadir dengan karyanya yang berjudul Fantasy yang sukses membuat aku langsung menyukainya. Kali ini Novellina hadir dengan kisah dark story. Novellina cukup berhasil membuat aku sebagai pembacanya penasaran akan halaman per halaman cerita Nefertiti ini. Bagaimana Nefertiti mengembalikan kecintaannya dengan Balet serta segala misteri yang Dia punya. Sosok Oliver dalam kisah ini juga merupakan pemanis akan sisi gelap Nefertiti.

Aku suka sekali bagaimana Novellina mengambarkan sedihnya Nefertiti karena tidak berhasil membuat kedua orangtuanya bangga. Suka sekali bagaimana sosok Nefertiti yang awalnya merupakan siswi aneh, bisa bertansformasi menjadi penari balet yang diperhitungkan.


"Akan selalu ada sosok itu dalam setiap sekolah. Yang hilang tanpa jejak dan ninggalin rasa penasaran buat teman seangkatannya." (halaman 68)

Ya. memang benar sekali. Aku membaca kisah ini, kalau selalu ada alasan dibalik sikap menjengkelkan orangtua kita terhadap kita. Kita seringkali sebagai anak merasa kalau orangtua kita tidak pernah bangga akan sesuatu yang berhasil kita capai, namun kita tidak tahu bagaimana perasaan bangga mereka sesungguhnya di dalam hati mereka. Terkadang mereka tidak pandai untuk mengungkapkannya dalam kata-kata.

Aku juga setuju sama pesan yang diberikan Novellina terhadap siswa/i yang di sekolah cenderung tidak diperhitungkan ternyata di masa depan mereka bisa lebih hebat dibanding teman sekolahnya yang saat itu merupakan murid popular. Jangan pernah menganggap sepele akan seseorang, karena kita tidak pernah tahu potensi tersembunyi yang ada dalam dirinya.

Setting tempat yang digambarkan dalam novel ini juga cukup real. Aku seperti bisa merasakan ikut berpetualang bersama Nefertiti keberbagai kota dibelahan dunia. Penulis berhasil sekali dalam melakukan riset untuk setting tempatnya. Cover novel ini juga cantik, menjadi poin tersendiri untuk menarik pembaca jika sedang memilih novel dalam sebuah toko buku.

Di setiap novel yang bagus, pasti selalu ada poin kurangnya. Begitu juga dalam kisah ini. Aku menemukan beberapa typo, yang tidak menganggu tapi cukup sering aku temukan;

  • "Bunga-bunga musim panas masih bermekaran walaupun tidak sesemarak bulan lalu." (halaman 68). Kata sesemarak seharus semarak. Kenapa masih ditambahkan himbuhan se-?
  • "I an the queen of mediocre, the king of nothingness." (halaman 113). Kata an dalam kalimat tersebut seharuanya am. kata sesudah An bukan merupakan sebuah benda yang diawali dengan huruf vokal.
  • "Setidaknya itu yang kulihat di satu-satunya lukisan naturalis belaiau." (halaman 121). Kata belaiau seharusnya beliau.
  • "Bukankarena apa-apa. Aku cuma mau kamu jadi temanku." (halaman 144). Kata bukankarena seharusnya dipisah menjadi bukan karena.
  • "Oliver mulai menjelaskan masing-masing fungsi yang ada padasepeda." (halaman146). Kata padasepeda seharusnya dipisah menjadi; pada sepeda.
Perpindahan sudut pandang yang tidak ditulis dengan keterangan nama juga membuatku bingung saat membacanya. Tiba-tiba saja sudah menggunakan POV Olliver. Tidak disertakannya setiap istilah asing yang aku temui tentang balet dan psikologi juga cukup membuat aku mengskip kata tersebut. Hanya saja jika dibuat catatan kakinya, pembaca akan menambah informasi baru.

Kehadiran sosok Theos sebelum ending cerita juga cukup membuat aku bertanya-tanya, karena pada halaman selanjutnya penulis sudang menceritakan setting lain. Aku juga gemas sekali dengan endingnya. Seperti misteri yang masih mengharuskan pembaca mengira-mengira. Tapi mungkin itulah hebatnya Novellina dalam bercerita, yang menjadikan keunikan tersendiri kisah ini dibanding dark story yang lain.

Untuk segala kelebihan dan kekurangan yang aku gambarkan, novel ini menjadi pilihan abru bagi pembaca yang sedang bosan akan cerita romance yang banyak ditemukan di toko buku.
3* untuk kisah ini.
Selamat menelusuri kisah kelam Nefertiti..

1 komentar:

Dewi Agni Darman said... Reply Comment

hallo sisaaf
mau.naya sista tau profil movellina A ?

Blog contents © Book world 2010. Blogger Theme by Nymphont.