Review: What If by Morra Quatro

Tuesday, October 6, 2015

Judul : What If
Penulis : Morra Quatro
Penerbit : Gagasmedia
Tebal : 280 halaman
Terbit : September 2015

Kamila.
Si Anal. Pengagum Sigmund Freud. Asisten dosen ilmu sosial yang sangat detail, yang selalu menjawab tiap pertanyaan di kelas. Menurut Kamila, orang-orang, terutama pada usia muda mereka, sesungguhnya punya kehausan alami akan ilmu. Baginya, hubungannya dengan Jupiter kemarin terasa seperti mimpi, sisanya tak benar-benar nyata.

Jupiter.
Mahasiswa tingkat dua. Penyuka basket, pemain gitar, perayu ulung. Ia telah menghadirkan Kamila di dalam hatinya sejak kali pertama pertemuan mereka di bawah langit siang. Baginya, ada sekelumit cerita yang harus ia ungkap. Tentang gadis yang ingin selalu ia antar pulang; tentang kisah yang datang bersamanya. Namun, ketika mereka tak lagi berjarak, ia menyadari ada sesuatu yang membuat segala hal di bawah langit siang itu terasa tak sama.

WHAT IF, tentang harapan yang terhalang. Tentang kenyataan yang tak mungkin dimungkiri. Tentang hidup yang tak selalu berpihak—hingga memaksa Jupiter dan Kamila menjadi lebih kuat daripada yang mereka sadari


REVIEW

Kamila adalah seorang mahasiswi yang tidak populer dikalangan kampusnya. Dia memiliki kebiasaan hidup penuh keteraturan. Sehingga teman-temannya menyebutnya dengan sebutan Anal.
Bagi Kamila terlihat sama seperti orang-orang sekitarnya membuatnya geram. Dia seringkali berusaha selalu terlihat tampil di depan umum.
 
Pertemuannya dengan sosok mahasiswa bernama Jupiter mulai menarik hatinya. Jupiter yang digambarkan memiliki wajah yang tampan dan dianugrahi mata yang indah mampu menarik perhatian Kamila.
Jupiter yang terkenal mahasiswa pemalas juga mau berusaha keras berubah hanya untuk mendapatkan sederet nomor telepon Kamila.

"Tak semua orang bisa tetap menyayangimu setelah membukamu hingga ke kulit terakhir." (halaman 127)

Perjuangan Jupiter tidak sia-sia. Kedekatannya dengan Kamila semakin menumbuhkan kebahagiaan dalam diri Jupiter, tapi mereka harus segera disadari akan perbedaan yang melintang jelas dihadapan mereka. Perbedaan yang sangat terlihat jelas.

"Sejak awal, mereka perlu berbeda. Mereka memang seharusnya berbeda. Sebab ada kalanya itulah yang dibutuhkan manusia untuk menyadari seluas apa hati mereka. Itulah yang mereka butuhkan untuk tahu; sebesar apa ahti sanggup mencintai." (halaman 278)

Ini awal perkenalanku akan tulisan Morra. Banyak review yang ku baca mengatakan tulisan beliau memang bagus. Untuk itulah aku membaca kisah ini.
Ternyata anggapan mereka benar. Aku jatuh cinta akan tulisan Morra.

Terlihat dengan jelas Morra sangat melakukan riset mendalam akan topik yang dihadirkan dalam tulisannya ini. Mungkin juga Morra sangat menyukai dunia politik dan sejarah. Tapi aku sebagai pembaca awam yang tidak tahu akan dunia tersebut mendapat berbagai tambahan ilmu yang sangat berguna.

Aku suka sekali tentang pengetahuan agama yang diberikan. Terlihat sekali Morra menguasi kedua topik yang berbeda tersebut. Caranya bercerita benar-benar membuatku tak sabar terus membalik kisah ini sampai selesai. Tidak ada kesan menggurui yang ku dapat, tapi memang penggambaran beda dunia terpampang jelas. Sehingga membuat pembaca yang mengalami kisah serupa mungkin bisa mikir dua kali untuk tetap bertahan. Benar-benar menguras emosi.

Bicara soal tokoh. Aku suka sekali akan tokoh Jupiter dan arti dibalik nama panjangnya. Aku suka sekali penggambaran akan sosoknya. Bagaimana Jupiter berlaku dan kekonyolan dya di depan Kamila.
Kamila. Aku suka sosok perempuan yang diangkat berbeda dari setiap novel yang ada dipasaran. Seseorang yang digambarkan sebagai sosok pengganggu orang banyak akan kebiasaan anehnya. Dianggap pengganggu justru Kamila bisa tetap maju dalam dunia perkuliahannya. Aku suka bagaimana cara Kamila menahan godaan dari sosok rupawan Jupiter.

Konflik yang diberikan benar-benar membuat aku tegang saat membacanya. Benar-benar penasaran bagaimana mereka dapat menyamai perbedaan dunia yang ada.
Sayang saat ending sudah di depan mata, aku kecewa.
Entahlah.
Aku kurang suka akan endingnya.
Seperti tidak di eksekusi secara keseluruhan.
Padahal aku suka terkesima dari awal cerita hingga menjelang ending.

Kisah yang manis sebenarnya.
Untuk debut pertama Morra yang ku baca, 3* aku berikan
Selamat membaca !


 

3 komentar:

Wignya Wirasana said... Reply Comment

Sudah baca yang FORGIVEN dan NOTASI.

Itu keren juga.

Hilda Aprilia said... Reply Comment

Apakah endingnya sama menyebalkannya?
Aku memang ingin baca karya Morra sebelumnya nanti ;D

Tiara Orlanda (Tier) said... Reply Comment

huhu enaknya udah baca ini, aku ms di wishlist, Pril huhu :'( btw harus baca yang Notasi ! haha

Blog contents © Book world 2010. Blogger Theme by Nymphont.