Review: Purple Eyes by prisca Primasari

Saturday, May 21, 2016

Judul : Purple Eyes
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Inari
Terbit : Mei, 2016
Tebal : 144 halaman

SINOPSIS

"Karena terkadang,
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi."

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.


---------------------------------------------------------------------
"Orang-orang yang tidak sempat mendapat pasangan di dunia ketika masih hidup, akan bertemu pasangannya di alam lain setelah mati." (halaman 82)
Hades adalah seorang dewa kematian yang bertugas berjaga di tempat transit. Dimana banyak orang bumi yang sudah meninggal singgah sebentar sebelum akhirnya pergi selamanya dari bumi. Dia memiliki seorang asisten cantik, bernama Lyre. Lyre adalah asistennya yang cukup setia. Lyre tidak pernah membantah semua omongan Hades.

Suatu hari semakin banyak manusia bumi yang memilih untuk mati. Hal itu diperparah dengan berita bahwa di bumi ada seorang pembunuh keji yang sudah membunuh beberapa orang dengan cara yang sadis. Kabar itu juga terdengar ke telinga Hades. Sehingga Hades ditugaskan untuk pergi ke bumi menghabisi pembunuh keji tersebut sebelum banyak korban yang meninggal. Hades pergi ke bumi ditemani Lyre asistennya.

Di bumi Hades dan Lyre bertemu dengan Ivarr. Pemuda tampan yang memiliki seorang adik menjadi korban pembunuhan keji tersebut. Hades bertemu dengan Ivarr bukan tanpa memiliki suatu tujuan. Hades menugaskan Lyre untuk menemui Ivarr secara berkala. Mengajak Ivarr ke tempat-tempat yang tidak diketahui Lyre apa hubungannya dengan misi mereka ke bumi.

Namun menjalankan perintah Hades ternyata tidak mudah. Ivarr seperti patung lilin yang tidak memiliki jiwa. Tapi Lyre harus tetap menjalankan perintah dari Hades.
"Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi." (halaman 78)
Satu hal yang disukai Lyre dari Ivarr. Pemuda itu memiliki mata berwarna ungu. Mata yang menghipnotis Lyre. Di lain pihak Ivarr masih terus memasang sikap dinginnya pada Lyre.

Lalu bagaimana akhirnya misi Hades dan Lyre di bumi? Apa hubungannya dengan Ivarr?
------------------------------------------------------------
Akhir-akhir ini banyak penulis yang mulai mengangkat tema dongeng menjadi sebuah tulisan yang dapat dibaca oleh segala usia. Namun, hanya Prisca yang kepikiran mengambil tema dewa kematian sebagai topik bahasannya. Dewa kematian dijadikan sebuah topik tulisan fiksi?

Menarik!

Kehadiran tulisan ini benar-benar membawa warna baru ditengah-tengah novel dongeng sejenis. Prisca mampu mengangkat cerita mitologi kuno mengenai Hades dengan sangat baik. Penulis juga menyisipkan mitologi lainnya dalam cerita ini. Benar-benar seperti didongengin oleh penulis.

Mengambil setting di Norwegia, aku suka sekali dengan keseluruhan cerita. Aku suka bagaimana penulis menggambarkan setiap tokoh yang diberikan. Hades si dewa kematian bertangan dingin, Lyre yang polos serta perubahan emosi Ivarr yang berkembang dengan baik.

Aku juga suka bagaimana penulis menggambarkan interaksi yang terjadi antara Lyre dan Ivarr. Ivarr yang dingin juga dapat dimaklumi sikapnya mengingat latar belakang penyebab yang membuatnya menjadi tidak memiliki hati -dapat dikatakan begitu-. Aku dapat merasakan sedih saat membaca penggambaran kesendirian Ivarr dalam keadaan sakit.
Sendirian. Berjuang untuk tetap hidup.

Mengambil POV ketiga, penulis menggambarkan semua situasi yang terjadi diantara tokoh Hades, Lyre dan Ivar dengan sangat baik. Bahkan saat penulis mengulas kembali ke masa lalu Lyre dengan latar tahun yang kuno,namun tetap dapat dinikmati oleh pembaca saat memahami kisah ini secara keseluruhan. Bahkan penulis menggambarkan deskripsi Hades dan Lyre saat berada di bumi dengan sangat detail. Penulis tidak membiarkan Hades dan Lyre menjadi rupa manusia secara keseluruhan. Hal yang pasti akan tidak masuk akal jika dilakukan.

Di sisi lain cerita ini memang mengandung unsur kelam. Namun, percayalah kamu dibuat terhipnotis dengan tulisan penulis. Jika ada kekurangan dari cerita ini mungkin hanya dari segi halaman saja. Tertalu tipis! Ya, aku tau memang cerita ini termasuk novella. Namun aku masih penasaran akan kondisi Ivarr yang berpetualang ke Bath sendirian. Aku juga penasaran akan kelanjutan ending ceritan yang diberikan dalam akhir novella ini. Jujur saja, ceritanya kurang panjang! Tidak rela rasanya menghabiskan kisah Ivarr dan Lyre dalam sekali duduk saja.

Overall, tulisan Prisca Primasari memang selalu ditunggu oleh pembacanya. Penulis selalu memberikan hal yang baru dan berbeda dari berbagai cerita yang sudah ada.
Menanti karya Prisca selanjutnya. Mungkin dengan dongeng lainnya?




Selamat membaca!

Regrads,

APRL
Blog contents © Book world 2010. Blogger Theme by Nymphont.