Review: Love in Paris by Silvarani

Sunday, May 1, 2016

Judul : Love in Paris
Penulis : Silvarani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 224 halaman
Terbit : Maret, 2016

SINOPSIS

Paris… tragis atau romantis? Ternyata, Paris tak hanya romantis, tetapi juga tragis. Lihat saja sejarah revolusi. Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette, dihukum mati di kota ini. Bersamamu, kira-kira Paris akan menampakkan wajah yang mana? Tragis... atau romantis?

Sheila begitu bahagia bisa ke Paris untuk melanjutkan kuliah di Pantheon-Sorbonne. Yang memberatinya hanya satu: Sony pacarnya tak mau menjalani LDR Jakarta–Paris. Berangkat dengan hati patah, Sheila mencoba meyakini bahwa Paris akan menghadiahkan hidup dan cinta baru.

Lalu muncullah Leon, sahabat kakaknya semasa SD. Laki-laki blasteran Prancis-Indonesia itu berprofesi sebagai fotografer. Bayangan Leon yang dulu mengimami Sheila saat shalat seketika pupus, berganti sosok “asing” yang menjalani gaya hidup khas kota besar. Walau agak kecewa, tak bisa dimungkiri Leon berhasil membuat Sheila terpesona. Pun sebaliknya. Pencarian iman mendekatkan mereka berdua, tapi juga mengombang-ambing hati keduanya.

Di bawah langit Paris, haruskah Sheila kehilangan cinta lagi? Mampukah gadis ini bersabar menunjukkan jalan lurusNya kepada Leon?

---------------------------------------------------------------------
REVIEW

Sheila selama ini hidup berkecukupan. Sheila mempunyai keluarga yang menyayanginya. Apapun yang Sheila butuhkan dapat dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Sheila juga punya pacar yang melengkapi hidupnya semakin sempurna.
Namun semua itu harus dya relakan saat memutuskan untuk kuliah di Paris. Sheila bosan hidupnya diatur selama ini oleh ayahnya. Sheila bosan menerima perlakuan manja yang diterima oleh kedua orang tuanya.

Tidak mudah akhirnya Sheila diperbolehkan kuliah di Paris sendirian. Orang tua Sheila tidak ingin melepaskan anak kesayangan mereka ke negri orang tanpa ada pengawasan orang lain. Namun, keraguan yang dimiki oleh kedua orang tua Sheila harus pupus saat Sheila dengan yakin mengatakan bahwa dia bisa hidup sendirian di Paris.

Banyak hal yang Sheila lepas saat memutuskan untuk pergi kuliah ke Paris. Termasuk hubungannya dengan Sonny, pacar Sheila. Jarak adalah alasan utama yang menjadi penghalang mereka. Dengan hati yang hancur karena hubungan Sheila harus berakhir, Sheila pun pergi ke Paris..
"Paris akan terasa romantis, tentunya tergantung dengan siapakah kita menyusuri kota ini."
Bagi Sheila, Paris bukanlah suatu kota yang sama sekali asing. Sejak kecil dia sudah pernah ke Paris bersama dengan keluarganya. Paris yang terkenal oleh banyak orang merupakan kota romantis, masih terus Sheila pertanyakan. Karena apa yang terjadi disekitar Sheila mengatakan Paris adalah kota yang sebaliknya.

Akan tetapi pendapat Sheila itu harus pudar saat dia bertemu dengan Leon. Sosok yang pernah hadir di masa kecil Sheila dahulu. Leon yang kini Sheila temui sudah bukan Leon yang Sheila kenal dahulu. Sheila merasa asing dengan sosok Leon. Padahal kehadiran Leon di Paris sudah mewarnai petualangan Sheila.

Lalu bagaimana Sheila harus menghadapi perubahan Leon kini?
-----------------------------------
Ini merupakan buku ketiga yang aku baca dari seri Love Around Series terbitan gramedia. Ketiganya membahas tentang agama. Termasuk novel ini. Namun, ketiga judul yang aku baca juga menyampaikan topik agama dengan cara yang berbeda.

Novel ini menarik perhatianku terlebih karena kota yang diangkat penulis, Paris. Covernya cantik seperti ketiga judul lainnya. Jelas aku menaruh harapan lebih akan judul ini.

Seperti judulnya, penulis memaparkan secara detail mengenai kecantikan kota Paris. Tempat, suasana dan waktu disana terasa seperti real. Penulis terlihat betul mengenal kota ini secara mendalam. Dalam Love in Paris juga pembaca dapat menemukan penggalan percakapan sederhana dalam Bahasa Perancis dan tidak lupa penulis menyertakan footnote untuk memudahkan pembaca mengetahui artinya. Suatu poin plus dari novel ini.

Konflik yang diberikan dalam novel ini sederhana. Tidak mudah bagi sosok remaja seperti Sheila memutuskan untuk kuliah di tempat jauh dari kelaurga. Penulis menggambarkan hal tersebut dengan baik sekali. Karakter Sheila dibiarkan berkembang dalam petualangannya menyesuaikan diri. Terlebih lagi alasan patah hati yang dirasakan Sheila tidak membuat novel ini menjadi romance sedih yang berkepanjangan.

Aku suka dengan kedua tokoh utama yang hadir dalam Love in Paris ini. Sheila yang sejak kecil sudah didik dengan ajaran baik oleh keluarganya masih terus mempertahankan didikan tersebut saat dia menempuh kuliahnya di Paris. Paris bukanlah suatu kota yang menerima datangnya perbedaan dengan mudah. Penulis jelas tidak melupakan fakta itu dan memasukannya menjadi bumbu seru dalam cerita ini. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perjuangan Sheila untuk mempertahankan kebiasaan baik yang sudah dia terima sejak kecil saat di Paris.

Lalu sosok lainnya Leon. Leon yang sudah menetap di Paris digambarkan menjadi sosok yang asing di mata Sheila. Perbedaan budaya antara Indonesia dan Perancis jelas dapat dimaklumi menjadi suatu alasan perubahan sikap Leon tersebut. Tidak ada seseorang yang mengingatkan Leon akan hal baik yang dahulu sempat dia terima saat masih di Indonesia.

Aku juga suka bagaimana penulis menggambarkan proses berkembangnya karakter Sheila dalam mengatasi konfliknya dengan Leon. Sheila dibiarkan memahami hal yang menyinggung hatinya dari sudut pandang berbeda. Hal itu semakin manis karena aku tidak melihat adanya penggambaran suatu agama lebih baik dari agama lain dalam kisah ini.

Jika aku dapat memberikan kekurangan novel ini mungkin adalah ada beberapa istilah kitab yang tidak aku mengerti hadir dalam novel ini. Namun hal itu tidak menganggu dan menambah pengetahuanku akan suatu hal yang baru.

Aku juga menyayangkan tidak digambarkannya secara jelas konflik antara Ann dan Leon dalam kisah ini. Penulis hanya memberikan alasan saja namun aku tidak menemukan sakit hati yang dirasakan Leon.

Menjelang ending cerita, aku menyukainya. Aku suka bagaimana Leon dan Sheila menyelesaikan masalah mereka. Endingnya semakin menggambarkan kalau kota Paris memang akan tetap menjadi kota yang romantis.

Overall, menulis sebuah cerita dimana menyertakan suatu agama didalamnya tidaklah mudah. Terlebih jika karya itu dapat dibaca oleh semua kalangan, tidak terhadap satu target pembaca tertentu saja. Dan aku rasa hal itu berhasil dilakukan dalam seri Love Around Series terbitan Gramedia ini.

Jadi menurutmu sendiri, Paris kota yang romantis atau tragis?


LOVE,

APRL

2 komentar:

Puji P. Rahayu said... Reply Comment

Looh, aku baru tahu kak kalau Love Around The World series ini membahas tentang agama juga. Aku kemana aja, ya? Hemm. Bisa jadi bacaan yang menarik, nih.

Btw, salam kenal ya, Kak. Hihi. Numpang jalan-jalan.

Hilda Aprilia said... Reply Comment

@Puji P. Rahayu: Hai Puji, iya nih seri Love Around Series ini membahas topik agama dengan cara yang berbeda di masing-masing penulisnya. Terimakasih sudah berkenan berkunjung ya :D

Blog contents © Book world 2010. Blogger Theme by Nymphont.