[Blog Tour] Review & Giveaway: My Bittersweet Marriage by Ika Vihara

Saturday, April 16, 2016

Judul : My Bittersweet Marriage
Penulis : Ika Vihara
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal : 360 Halaman
Terbit : Maret, 2016

SINOPSIS

Aarhus. Tempat yang asing di telinga Hessa. Tidak pernah sekali pun terlintas di benaknya untuk mengunjungi tempat itu. Namun, pernikahannya dengan Afnan membawa Hessa untuk hidup di sana. Meninggalkan keluarga, teman-teman, dan pekerjaan yang dicintainya di Indonesia. Seolah pernikahan belum cukup mengubah hidupnya, Hessa juga harus berdamai dengan lingkungan barunya. Tubuhnya tidak bisa beradaptasi. Bahkan dia didiagnosis terkena Seasonal Affective Disorder. Keinginannya untuk punya anak terpaksa ditunda. Di tempat baru itu, Hessa benar-benar menggantungkan hidupnya pada Afnan. Afnan yang tampak tidak peduli dengan kondisi Hessa. afnan hanya mau tinggal dan bekerja di Denmark, meneruskan hidupnya yang sempurna di sana.

Kata orang, cinta harus berkorban. Tapi, mengapa hanya Hessa yang melakukannya? Apakah semua pengorbanannya sepadan dengan kebahagiaan yang pernah dijanjikan Afnan padanya?


-------------------------------------------------------
REVIEW

Hessa sedang dilanda kecemasan dari orangtuanya saat dia menginjak umur yang sudah seharusnya menikah namun memili pacarpun tidak. Sementara adiknya Hessa sudah menanti untuk menjawab lamaran yang diberikan oleh pacarnya. Karena itu Hessa nulai sering dikenalkan mamanya kepada banyak pria.

Kali ini pria itu bernama Afnan. Cowok bule, tampan dan cerdas. Setidaknya itulah yang diketahui Hessa saat dia melihat siapa Afnan melalui internet. Hessa ingin dikenalkan sama sosok pria membosankan yang hanya berbicara seputar sains, sains dan sains? Hessa jelas menolak! Afnan juga diketahuinya bekerja di luar negri. Itu berarti jika Hessa menyetujui untuk mengenal Afnan lebih dekat harus pindah mengikuti Afnan.
"Aku lebih suka diakui orang karena hebat bukan karena ganteng..." (halaman 116)
Hessa tidak percaya cinta pada pandangan pertama karena menurutnya itu hanya berlaku jika melihat baju atau sepatu bagus yang akan suka semantara dan dilupakan dengan cepat. Tapi ternyata itu tidak berlaku saat Hessa bertemu dengan Afnan untuk pertama kalinya. Pertemuan yang tidak diduga Hessa. Afnan menyebalkan! Tidak memberikan reaksi antusias ingin berkenalan dengannya.

Hal itu sungguh mengusik Hessa. Bahkan sejak pertemuan tidak sengaja itu Afnan tidak menghubunginya sama sekali. Lalu setelah sekian lama, Afnan kembali mendatangi Hessa dan mengajaknya menikah! Tanpa ada proses pacaran dan berkenalan. Hessa juga diminta untuk bersiap mengikuti Afnan ke Aarhus.
"Banyak orang harus meninggalkan rumah untuk kuliah atau bekerja;. Bisa ke luar kota atau ke luar pulau. Banyak juga yang ke luar negeri. Kalau mereka bisa, mengapa dia tidak bisa? (Halaman 122)
 Hidup Hessa berubah saat akhirnya dia ikut Afnan ke Aarhus. Hessa harus berdaptasi terhadap flat yang ditinggali Afnan selama ini. Berdaptasi dengan cuaca yang beda sekali dengan Indonesia. Beradaptasi dengan daerah dan terpenting Hessa beradaptasi dengan Bahasa asing yang sama sekali tidak Hessa kuasai.

Hidup di negri orang membawa Hessa mengalami trauma akan musim dingin. Hessa stress bahkan tidak bisa beraktifitas. Hal itu diperparah saat Hessa hamil. Hessa hamil anak Afnan. Lalu bagaimanakah Hessa menjalani rumah tangganya? Akankah keinginan mempunyai anak bisa Hessa wujudkan?
"Menikah dengan orang yang dicintai atau menikah karena dijodohkan judulnya sama-sama menikah"
------------------------------------------------------
Seri Le Marriage lainnya yang diterbitkan oleh Elex Media yang langsung menjadi pilihan bacaanku begitu terbit. Apalagi kalau bukan tema pernikahan yang diangkat serta setiap novel yang dihadirkan memiliki cerita keunikan tersendiri. Termasuk novel ini.

Ini adalah awal pertamaku mengenal tulisan Ika Vihara dan aku langsung jatuh cinta dengan permainan kata yang dihadirkannya dalam My Bittersweet Marriage. Covernya cantik sekali. Awalnya aku tidak mengetahui kenapa menggunakan sepeda kuning sebagai gambar cover, namun setelah membaca keseluruhan cerita ternyata nyambung dengan kisah Hessa itu sendiri.

Aku juga harus memuji dengan desain setiap halaman dalam buku ini. Cantik. Aku juga suka dengan karakter yang diberikan di setiap akhir bab cerita. Hal-hal package dalam sebuah novel bahkan sampai ke dalam halaman benar-benar dipikirkan dengan baik.

Novel ini cukup tebal. Menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis dengan lihai menggambarkan setiap situasi dengan baik. Dengan alur yang mengalir membuat novel ini dengan cepat diselesaikan. Bahasanya juga ringan. Penulis menggunakan setting yang cukup detail mengenai Denmark dan beberapa tempat wisata di Aarhus novel ini semakin manis terlihat. Penulis jelas melakukan riset cukup baik akan setiap setting tempat yang diberikan.  Aku harus memuji dengan penggunaan Aarhus sebagai setting cerita. Suatu nama daerah yang tidak semua orang pernah mendengarnya. Kecerdikan penulis memilih kota kecil di Denmark benar-benar dapat dipuji. Karena hal itu menambah warna kehadiran novel fiksi di Indonesia dimana mungkin lainnya membahas kota besar saja. Kota Aarhus ternyata memiliki keunikan tersendiri yang perlu dibagikan ke pembaca.

Aku selalu suka jika di dalam suatu novel memiliki karakter yang kuat. Baik dari segi fisik, karakter dan bagaimana karakter tersebut bersikap. Dan ya, novel ini memiliki elemen itu yang membuat pembaca akan mudah jatuh cinta akan keseluruhan cerita yang diberikan. Afnan. Penggambaran yang cukup detail mengenainya dan bagaimana sifat yang diciptakan penulis benar-benar pengendali cerita. Aku suka sekali dengan karakter Afnan. Laki-laki yang membosankan namun bertanggung jawab akan setiap tindakan yang diberikan. Afnan semakin terlihat gentle saat dia digambarkan tidak suka memperkeruh suasana. Perdebatan kecil yang terjadi antara Afnan dan Hessa semakin membuat novel ini dibumbui warna tersendiri. Sedih dan membuat pembaca gemas dengan tingkah Afnan dan Hessa.

Tokoh Hessa dengan kecemasannya tidak menemukan pasangan hidup saat umurnya sudah menemui usia sudah seharusnya menikah juga merupakan dilema banyak perempuan dimanapun. Bahkan saat sudah menikah dan diburu kapan memiliki anak juga realita yang sering kita jumpai sehari-hari. Penggambaran sederhana yang dihadirkan penulis membuat novel ini dekat dengan kehidupan nyata pembaca.

Aku bisa memahami apa yang dirasakan Hessa memutuskan untuk mengikuti Afnan ke luar negri bahkan tinggal menetap disana. Penulis menggambarkan semua yang dirasakan Hessa dengan baik. Aku rasa tidak ada part yang terlalu melebihkan. Aku juga ikut merasakan sedih saat Afnan dan Hessa menemui konflik puncak dalam kehidupan mereka. api lagi-lagi kehadiran sosok Afnan benar-benar mencuri perhatian.

Namun ada beberapa typo yang aku temui dalam kisah Hessa dan Afnan ini tapi tidak membuatku terganggu karena sudah larut dalam cerita Afnan dan Hessa serta indahnya Aarhus. Aku juga cukup menyayangkan dengan tidak diberikannya footnote pada setiap istilah asing yang diberikan. Menurutku alangkah baiknya disertakan footnote agar pembaca yang tertarik dengan Aarhus mendapatkan pengetahuan baru saat membaca kisah Hessa dan Afnan ini.

Overall, untuk sebuah novel debut Ika Vihara, novel ini bagus sekali. Karakter yang kuat, setting tempat yang detail serta konflik sederhana yang dikemas mengambil sisi psikologis seseorang merupakan poin yang kamu gunakan untuk tidak ragu menjadikan novel ini bahan bacaanmu selanjutnya.




Sepertinya aku akan menantikan kisah Afnan-Mikkel jika ada di buku selanjutnya :D

Selamat membaca!
----------------------------------------------
GIVEAWAY TIME!

Haloooooo... selamat datang dalam rangkaian kedua Blog Tour: My Bittersweet Marriage by Ika Vihara di blogku!


Kali ini aku bekerjasama dengan penulis ingin memberikan satu eksemplar novel ini gratis beserta 1 sketch kota Aarhus untukmu! Mau?

Caranya mudah banget!

1. Kamu harus berdomisili di Indonesia

2. Follow blog ini via GFC atau email.

3. Follow akun twitter @aprlboanarges dan @IkaVihara lalu share giveaway ini menggunakan hastag #MyBitterSweetMarriage jangan lupa mention @elexmedia juga ya!

4. Jawab pertanyaan di bawah ini dengan menyertakan nama, akun twitter, link share dan jawaban.
 "Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?"
5. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 16-19 April 2016 pukul 23:59 WIB dan pemenang akan lanmgsung diumukan pada tanggal 20 April 2016.

6. Pemenang tidak dinilai berdasarkan sistem random, jadi jawablah semenarik mungkin ya!

GOOD LUCK!

Regrads, 
APRL 

32 komentar:

Kornelius Ginting said... Reply Comment

Hmmmm...memang butuh banyak hal yg perlu dipertimbangkan sebelum menikah...

Seperti keyakinan hingga ke penghasilan dan cara berfikir dan gaya komunikasi..

Kalau saya pribadi lebih menekankan ke diri saya agar apapun ke depan yang terjadi dalam pernikahan, selama itu sudah pilihan dan keputusan saya (tentunya berdasarkan logika dan pikiran sehat tanpa paksaan) saya akan berusaha bertanggung jawab..

Intinya pertimbangan saya sebelum menikah adalah bertanya ke diri saya.. Inikah pilihan saya?


She Spica said... Reply Comment

Nama : Diah P
twitter : @She_Spica
Link share :https://twitter.com/She_Spica/status/721160122450325504

Ap pertimbanganmu untuk mnikah?
Yg paling utma sudh psti keyakinannya hrus sama. Selebihnya ga neko2, selama ad lelaki yg siap brtanggung jawab atas diri saya dunia-akhirat, maka saya siap untuk menikah saat itu juga. Terima kasih.

Unknown said... Reply Comment

Nama: khusnul
Twitter: @imahreana
Link share: https://twitter.com/imahreana/status/721169101071060992

Seiman (PASTI). Sama hati, jujur banget susah, ngeyakinkan hati bahwa dia yg terbaik. Memantaskan hati bahwa dia mau menerima aku apaadanya. Yakin mempercayakan hati ini untuk bisa hidup bersamanya, dan sanggupkah dia untuk setia padaku, itu berat 😌
Terus JARAK, itu harus dipikirin banget. Aku gk mau setelah nikah kita harus tinggal berjauhan. Maka dari itu, akan selalu ada yg dikorbankan ketika kita terjebak antara mengejar mimpi sama mengejar cinta, dan diantara kita harus ada yg mengalah. Memang benar, jarak juga mengajarkan kita, betapa berharganya kehadiran seseorang yg kita sayangi walau hanya dalam hitungan menit, tapi efeknya di pikiran engga baik, jalaninnya kadang butuh perjuangan. Intinya setiap perempuan itu mau diperjuangkan, udah gitu aja! Hhee

Yanti said... Reply Comment

Nama : Nurhidayanti
Akun twitter : @CallMe_Yanti
Link share : https://mobile.twitter.com/CallMe_Yanti/status/721191420627853312?p=v

 "Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?

Yang pertama Kesiapan mental. Kalau kita nggak siap secara mental pastinya kita akan sulit nantinya menghadapi permasalahan dalam berumah tangga. Ada masalah sedikit nanti akan mudah mengucapkan kata cerai. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan harus dihargai. Karena pernikahan adalah mempersatukan dua orang yang memiliki sifat berbeda sama sekali. Maka dari itu kita harus siap dulu secara mental.

Selain itu juga kesiapan materi. Tidak bisa dipungkiri bahwa materi itu sangat penting. Yang terpenting bagi seorang wanita adalah memilih pasangan yang mapan yang kelak mampu menafkahinya.

Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan, makanya sebelum memutuskan untuk menikah kita harus mempertimbangkan secara matang apakah kita siap atau tidak untuk berumah tangga.
Karena hidup berdua dengan pasangan sangat jauh berbeda dibandingkan hidup sendiri. Saat hidup sendiri atau bersama orang tua, kita masih bisa untuk minta bantuan dari orang tua. Namun saat berumah tangga, kita harus tolong menolong dengan suami/ istri kita. Sikap saling menghormati di antara kedua pasangan juga sangat penting untuk membangun pondasi yang kuat dalam pernikahan.

Unknown said... Reply Comment

Nama : Heni Susanti
Akun : @hensus91
Link : https://twitter.com/hensus91/status/721197405568249858
"Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?"

Beberapa pertimbangaku selalu mengenai :
1. Agama. Apakah dia akan mampu membimbing keluarga kami nantinya agar kelak kami bisa berkumpul lagi di akhirat dalam kebahagiaan.
2. Bagaimana sikapnya pada keluargaku. Semua orang tahu bahwa pernikahan adalah menyatukan dua keluarga jadi aku mau setelah "SAH" dia tidak menempatkan diri sebagai orang asing dalam keluargaku. Apakah dia bisa mencintai keluargaku, menghormati orangtuaku? Menjadi anak laki-laki yang selama ini tidak mereka miliki. :D
3. Apakah dia bisa menghormatiku? Ada yang bilang kalau istri adalah wibawa suami. Jadi sebagai wibawanya aku harap dia akan menghormatiku. Menjaga nama baikku. Contohnya dengan selalu menjaga ucapannya padaku di depan umum. Tidak marah-marah dan bisa menjaga untuk menegurku saat
kami di rumah. Alasannya, aku pernah melihat seorang suami yang memarahi istrinya di depan umum dan bagiku itu sama saja dengan menjatuhkan harga diri sang istri dimata banyak orang. Jelas laki-laki itu tidak menghormati istrinya dan aku tidak mau suamiku seperti itu.
4. Kecerdasannya. Ini penting karena jika dia cerdas, dia akan mampu berpikir jernih dalam menyelesaikan masalah apapun. Berkepala dingin dan tidak mudah terpancing emosi. Ini juga penting agar kami bisa membimbing anak-anak kami menjadi pribadi yang baik, cerdas, soleh-solehah, dan bisa menjadi
kebanggaan keluarga, agama dan negara. Ini impian sekali memiliki anak yang seperti itu.
5. Kejujurannya. Penting juga karena tidak akan berjalan dalam kedamaian sebuah keluarga kalau tidak ada kejujuran dan keterbukaan antara suami dan istri. Senang-susah semua harus dibicarakan bersama. Aku selalu membayangkan duduk diranjang bersama suamiku dan sebelum tidur kami membicarakan apa saja. Kebanggaannya maupun kerapuhannya akan menjadi pemanis hidupku kalau dia mau membaginya bersama. Sebelum tidur menikmati kesalahan dan kebahagiaan kecil yang kami dapati seharian itu rasanya pasti indah. :)
6. Kemapannya. Semua wanita pasti berpikir realistis sebelum menerima lamaran seorang laki-laki. Akupun sama. Aku ingin rumah tangga yang tidak akan membuat kami pecah hanya karena masalah keuangan. Aku ingin dia mampu mencukupi kebutuhan hidup kami, biaya hidup anak-anak kami,
pendidikan mereka, kesehatan dan hobi mereka. Bukan berarti aku hanya akan jadi istri yang menuntut. Aku akan tetap membantunya memenuhi semua itu kalau dia mengijinkan kok. :D
7. Pengertiannya. Berhubung aku sangat keras kepala, aku berharap dia mengerti kekuranganku ini. Dalam hal ini dia harus bisa mengingatkan kesalahanku dan bukannya menghakimi. Jadi dalam pernikahan kami tidak akan ada masalah besar yang muncul hanya karena saling tidak pengertian.
Aku menerima dan mengerti kekurangannya, dan dia pun begitu.

Demikian dan terima kasih :)

Maaf,komen pertama dihapus ya. Dapat peringatan dari Mbak Ika kalau hestek salah.

Rini Cipta Rahayu said... Reply Comment

Rini Cipta Rahayu
@rinicipta
https://twitter.com/RiniCipta/status/721222529898147840

Pertimbangan yang paling mendasar sebelum memutuskan menikah adalah "Yakin". Yakin bahwa kamu dan dia memiliki keyakinan yang sama, visi dan misi di masa depan juga sama. Yakin bahwa hubungan ini udah dapat restu dari keluarga, terutama dari orang tua kamu dan dia. Yakin bahwa kamu dan dia sudah siap untuk hidup bersama dalam jangka waktu yang lama, dengan segala problema yang ada. Yakin bahwa kamu dan dia tidak hanya siap mental tapi juga material. Yakin bahwa pernikahan ini adalah sekali seumur hidup dan komitmen itu harus dijaga :)

Hapudin said... Reply Comment

Hapudin
@adindilla
https://twitter.com/adindilla/status/721248094579351552

Pertimbangan sebelum menikah buat saya yang seorang pria adalah kemapanan. Soalnya saya percaya "istri yang baik adalah yang bisa diajak melarat, tapi suami yang baik yang tidak akan mengajak istrinya melarat". Jadi kemapanan itu penting. Bukan harus kaya raya. Yang penting ada penghasilan dan rumah. Itu pondasi yang kuat menjelang pernikahan. Penghasilan akan menghidupi perjalanan rumah tangga. Yang penting cukup. Sedangkan rumah akan menjadi surga di dunia tempat semua akan kembali pulang.

Unknown said... Reply Comment

Nama : Nadia Chaerani
Twitter : @nadiachaerani
Link Share : https://twitter.com/NadiaChaerani/status/721270045150568452


Apa yang menjadi pertimbanganku sebelum memutuskan untuk menikah?


Aku belum terlalu memikirkan "masalah" ini. Jadi mungkin sedikit singkat dan agak aneh._.
Pertama, yang pastinya Mental. Kalau mental kita lemah, sedikit digoyang oleh sesuatu (berita buruk) yg gak bener juga bakal runtuh. Hancur. Keyakinan kita juga bakal goyah. Apalagi kalau minggu² menuju hari H (dari cerita sana-sini) bakal banyak gangguan dalam hubungan bahkan persiapan acaranya, lalu kalau sudah SAH dan menjalani kehidupan RT semua cobaan akan semakin kian menerpa *ceilah* . maka bersabarlah.
Kedua, CALON. ya namanya juga menikah harus ada calon lah. Calon yg sehati, SEIMAN, tanggungjawab, sabar, dewasa, kalem, dst. Ya semoga aja semua itu ada pada calon masa depanku *khemm* tapi jodoh siapa yg tau kan? Semoga diberikan yg terbaik. Aamiin.
Ketiga, kemantapan hati. Ya mungkin hampir sama kayak mental. Kita jangan ragu atas apa yg akan menjadi masa depan kita. Semua sudah diatur oleh yg Maha Kuasa. Jadi ikutilah dan tawakal.
Keempat, Finansial. Gak harus calon suami yg mempersiapkan finansial. Kita sebagai perempuan pun wajib. Emang mau uang bulanan buat beli sabun, pasta gigi, bedak, makanan, dll. nunggu dari suami? Kalau kita terlalu tergantung ke suami kan kesian juga. Namanya menikah harus saling membantu kan? *skip* *ngelantur*
Kelima, yang wajib banget. Dapet Restu dari keluarga kedua belah pihak. Kalau persiapan diatas sudah beres tapi gak direstuin? Buat apa guys gak ada gunanya:'). Restu orangtua restu Tuhan juga. Jadi minta restu dulu yaa.

Kayaknya diotakku cuma segitu. Entahlah ini menjawab pertanyaan atau malah motivasi curhat. Agak aneh dan errrrrr.... Gitu deh. Maapin ya, kadang saya khilaf hehe
Makasih udah mau baca dan semoga aku beruntung 😆😀

Hidayatun Ni'mah said... Reply Comment

Nama : Hidayatun Ni'mah
Twitter : @HidayatunNimah_
Link Share :https://twitter.com/HidayatunNimah_/status/721513509582864384

Apa yang menjadi pertimbanganku sebelum memutuskan untuk menikah?

Ini jawabanku :
1. Melihat calon saya itu orangnya mandiri atau malah tipe orang yang manja.Hampir semua wanita suka dengan pria yang mandiri dan sukses dengan usaha yang digelutinya, bukan pria yang masih ‘numpang’ sama orangtuanya.Bukannya saya memilih orang yang kaya. tapi karena saat berkeluarga nanti suamilah yang akan menghidupi keluarga, bukan orangtuanya yang akan memberi sokongan biaya untuk kebutuhan hidup kami.

2. Apa dia punya kelembutan dan kebijaksanaan yang jempolan. Nggak sedikit pria yang memiliki karakter keras dan kasar. Kalau dia berani berbicara kasar kepadaku sebelum menikah, hampir pasti setelah menikah pun dia juga akan seperti itu, bahkan bisa lebih parah lagi. Jangan selalu berpikir, “Pasti nanti dia bisa berubah kok.” Tidak ada yang bisa menjamin dengan hal itu, termasuk diriku sendiri. Lebih baik matangkan hal ini. Jika saat ini pria itu tak bisa menghargaiku, setelah menikah pun dia juga tak akan bisa menghargaiku.

3.Melihat hubungannya dengan keluarganya. Sifat pria kepada ibu dan saudaranya perempuannya itulah yang menjadi cerminan masa depan nanti. Kalau dia bisa bersikap lembut kepada mereka, begitu pula dia akan bersifat demikian kepadaku.

4. Melihat bagaimana teman-temannya. melihat apakah temannya seorang yang terpelajar, baik, nggak neko-neko yang negatif, lingkungan pergaulan juga baik, dan lain sebagainya. Karena pergaulannya itu mencerminkan bagaimana kepribadian pria sebenarnya.

5. Bagaimana sikapnya dalam menghadapi tekanann. Mungkin aku terperdaya dengan rayuan manisnya. Suka dengan selera humornya yang membuatku tertawa dan merasa bahagia. Tapi kualitas seorang pria tak bisa dilihat dari sisi itu saja. Tapi juga harus melihat bagaimana sikap dia ketika menghadapi tekanan. Lihat apakah dia tegar atau mudah putus asa, atau malah termotivasi untuk menjadi lebih baik.

6. Melihat apakah aku dan dia SEIMAN. Karena jika tidak seiman dia tidak akan mampu membimbing keluarga kami nantinya agar kelak kami bisa berkumpul lagi di akhirat dalam kebahagiaan.

Unknown said... Reply Comment

Kurnia Dwi Pertiwi
@KDP264
https://mobile.twitter.com/KDP264/status/721553422466428929

Langsung aja, CITA-CITA
Masih banyak impian yang belum aku capai. Kalau udah ada yang di capai sih galala. Kalau belum sama sekali Mending pending dulu. Umur aku juga masih gemes gini. Masih pantas lah pake seragam SMA :D cita cita emang masih bisa di capai setelah menikah tapi rasanya pasti beda single and taken. Ya kan?

Buat tulang rusuk yang aku colong :D gapapa kan aku menggapai cita-cita dulu? Kamu pasti mendukung aku. Gapapa kok, kalau kamu udah nemuin aku sekarang biar kita pedekate lama hahaha :D tapi jangan pendekate lama-lama ah ntar ngak jadian hahaha. aku juga butuh support kamu tulang rusukku. Kalau mau hadir sekarang gapapa kok. #kode :D

Putri said... Reply Comment


Putri Prama A.
@putripramaa
https://mobile.twitter.com/PutriPramaa/status/721560083138629635
"Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?"
Keseriusan.
Menikah bukan perkara dua orang memiliki buku berwarna hijau dan cokelat yang menyatakan status pernikahan saja. Menikah bagiku adalah urusan yang mengikatkan seluruh aspek kehidupan dua orang menajdi satu. Menikah menjadikan dua orang menajdi satu, pasangan yang diharapkan untuk sehidup semati. Karena esensi itulah, menurutku KESERIUSAN adalah hal yang menjadi pertimbangan utama sebelum menikah.
Jika memang serius untuk menikah, maka tidak ada yang namanya angan-angan buram. Semua sudah jelas, bukan sekadar bertindak seenak hati untuk bawa orang ke KUA dan menikah. Jika memang serius, maka dia akan mempersiapkan segalanya dengan baik dan meminimalisir kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi. Siapa sih yang suka kesulitan? Oleh karena itu, kalau mau menikah, pikirkan dulu: "bagaimana nanti setelah aku menikah? Apa kami akan hidup nyaman? Bagaimana dengan anak-anak bila kami punya anak nanti?"
Menikah itu banyak pertimbangan dan yang paling utama bagiku adalah keseriusan. Kalau serius, menikah akan mudah dan potensi untuk 'menyusahkan' anak orang semakin kecil.
Yah, kurang lebih seperti itu pertimbanganku sebelum memutuskan menikah. Hope I am lucky. Terima kasih untuk giveawaynya, Kak. ^_^

Annisa Rizki Sakih said... Reply Comment

Nama : Annis Rizki Sakih
Twitter : Annisakih
link share : https://twitter.com/Annisakih/status/721555708332761090

Bagi yang belum menikah, pertimbangan sebelum menikah itu memang kelihatanya banyak dan idealis sekali, namun bedasarkan pengalaman saya pribadi ternyata tidak serumit itu. Intinya percayai kata hati dan jangan terlalu mendengarkan perkataan perkataan orang lain (kecuali orang tua sendiri atau saudara kandung) karena pernikahan pada hakikatnya hanyalah janji dihadapan Tuhan YME antara kedua mempelai.

Pertimbangan saya menerima laki-laki yang saat ini menjadi suami saya hanya dua hal yaitu restu orang tua dan kemantapan hati. Karena sudah dapat dipastikan orang tua memberikan restu kepada seseorang yang dirasakan sesuai untuk anaknya, memiliki akhlak, keimanan yang baik dan mampu beradaptasi menjadi bagian keluarga. Sedangkan kemantapan hati diperoleh setelah cukup mengenal kepribadiannya dan mengetahui bahwa dia memeliki kesungguhan, kesetiaan dan bertanggungjawab kelak setelah menjadi suami dan ayah. Kemudian diserahkan pada Tuhan YME dengan berdoa secara sungguh-sungguh sesuai ajaran agama masing-masing(saya melalui shalat Istikharah). Alhamdulillah hampir tiga tahun mengarungi rumah tangga, sejauh ini saya rasa telah membuat pertimbangan yang tepat sebelumnya.

Humaira said... Reply Comment

Nama : Humaira
Akun Twitter : @RaaChoco
Link Share : https://mobile.twitter.com/RaaChoco/status/721611384979501060?p=v

"Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?"

Yang paling utama, kami satu keyakinan. Hal selanjutnya adalah diriku sendiri.
Mempersiapkan diri dengan sangat matang, karena cara menghadapi kehidupan dan masalah sebelum dan sesudah menikah itu jauh berbeda. Yakin bahwa calonku orang yang baik, berbakti kepada orangtuanya dan akan menyayangi keluargaku, juga harus memiliki pekerjaan yang halal. Imam yang mampu membuatku menjadi orang yang lebih baik untuk menuju surga-Nya. Setelah hal tersebut terpenuhi, aku yakin lahir dan batin, juga cocok dengan cocok dengan calonku, insyaallah pernikahan bisa dilakukan.

Selebihnya, semoga calonku mau menerima banyak kekurangan dan sedikit kelebihan yang aku miliki. Dan aku juga harus menerima semua kekurangan dan kelebihan yang dia miliki.

Menikah itu untuk saling melengkapi dan berbagi, bukan untuk saling menyakiti :) :) :)

Semoga ka April dan ka Ika memilihku :) :)

Makasih giveaway-nya ka :)

Unknown said... Reply Comment

Nama: Dian Maharani
Akun Twitter: @realdianmrani93
Link Share: https://twitter.com/realdianmrani93/status/721380911858585600

"Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?"
Agama.
Jika agamanya kuat, maka dia akan kuat melewati apapun. Dia akan kuat dalam menuntunku, kuat dalam mempercayaiku, kuat dalam melindungiku, dan kuat dalam mencari nafkah untukku. Punya kekuatan fisik belum tentu bisa membawa kita ke surga, tapi kalo punya kekuatan religi, percayalah, suatu hari nanti dia akan memetikkan bintang dari surga :)

Vivi said... Reply Comment

Nama: Vivi Lutfah
Twittet: @LutfahVivi
Link:https://twitter.com/LutfahVivi/status/721716411849003008

Jawaban:
1. Restu orangtua, karena tanpa restu dari orangtua pernikahan kita mungkin nggak akan berjalan dengan lancar. Restu orangtua itu wajib.
2. Kebahagiaan orangtua, walau pernikahan yang atas dasar keterpaksaan tapi atas niat ingin membahagiakan orangtua, insyaallah pernikahan akan berjalan dengan semestinya. Allah pasti akan memberi yang terbaik atas usaha kita yang ingin membahagiakan orangtua. Mungkin cukup sekian.

Terima kasih,
Dan semoga beruntung.

Unknown said... Reply Comment

nama : yuni anna
twitter : yunianna20
link share :https://twitter.com/yunianna20/status/721714329301594112
jawaban:
calonku harus yang seiman, bisa memerima keluargaku dan mau menyanyangi keluargaku karna suami yang menyanyangi keluarganya patut untuk diperjuangkan. lalu restu kedua orang tua karna restu orang tua segala-galanya untukku, orang tua tau apa yang terbaik untuk anak anaknya. mau menerima aku apa adanya, mau menerima semua kekuranganku dan aku pun akan seperti itu kepada dia. dia harus rajin beribadah agar nantinya dia yang akan menjadi imam untuk keluarganya dan menjadi panutan. pendidikannya harus tinggi, dia berasal dari keluarga yang baik-baik. mempunyai pekerjaan yang mapan agar keluarganya tidak mersa kekurangan dan kesusahan. dan terakhir bisa membuat aku nyaman dan terlindungi saat bersama dia, karena kenyamanan merupakan kesempurnaan cinta.. menurutku
makasih buat kak april dan kak ika untuk giveawaynya :)

Nur Annisa said... Reply Comment

Nama: Nur Annisa
Twitter: @YoshikuniNhora
Link share: https://twitter.com/YoshikuniNhora/status/721881059193790465
"Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?"

Yang pasti harus seiman. Ini wajib dan harus. Kalo sudah seiman maka persiapan, baik lahir, batin maupun materil. Dan ijin/restu dari keluarga kedua belah pihak.

Unknown said... Reply Comment

Nama: Farikhatun Nisa'
Twitter: @littlepaper93
Link share: https://mobile.twitter.com/Littlepaper93/status/721903569280958464?p=v

"Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?"

Jawaban: Tentu saja dengan siapa aku menikah, itulah yang aku pertimbangkan. Mulai dari agamanya, dan sikapnya. Tapi aku tidak akan terlalu berlebihan dalam mempertimbangkannya. Karena pada dasarnya pernikahan itu adalah awal hidup baru di mana keduanya saling melengkapi dan saling mengenal. Selebihnya, biarkan berjalan seiring waktu. Karena semua yang terjadi ke depannya adalah hasil dari keputusanku sebelumnya.

salsa-nely.com said... Reply Comment

Nama : Yanti
Twitter:@NelyRyanti
Linkshare : https://twitter.com/NelyRyanti/status/721940747570647041

"Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?"

Jawaban
1. Usia
Usia jadi alasan utama, karena kalo usiaku masih dibawah 20 tahun, ga akan menikah dulu. Tetapi kalau usia sudah diatas 25 tahun, aku harus mulai mencari-cari pasangan. Karena aku ga mau nikah di usia yang sudah lewat juga
2. Pasangan harus seiman
Ini adalah syarat utama, karena orang yang menjadi pasanganku adalah imam bagiku dan keluargaku nanti, jadi harus punya keyakinan sama
3. Komitmen
Setelah punya keimanan sama, dia juga harus mempunyai komitmen tentang sebuah keluarga yang sama. Kalau sudah di awal berkomitmen, maka kendala nanti dalam berumah tangga, akan lebih mudah terlewati
4. Restu kedua keluarga
Kalau kedua orangtua kita sudah merestui, maka akan lebih mudah menjalani. Karena doa orangtua terhadap anaknya adalah paling mujarab
5. Punya penghasilan
Saya tidak mensyaratkan kaya, tetapi punya penghasilan, sehingga dapat memberi nafkah istri dan anaknya secukupnya
6. Kita nyaman satu sama lain
Ini hal terakhir, karena suami istri itu patner, jadi harus saling nyaman, tidak merasa terbebani sehingga kehidupan berumahtangga akan terasa ringan

Nunaalia said... Reply Comment

nama: Aulia
twitter: @nunaalia
link share: https://twitter.com/nunaalia/status/721955638562033664

"Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?"

Jawaban:
1. Agama dan pribadi dari calon suami, harus seiman dan ibadahnya baik, bisa menjadi imam keluarga, berpenghasilan, bertanggungjawab & jujur. Karena suami nantinya adalah pemimpin keluarga yg akan membimbing & melindungi istri dan anak-anaknya.

2. Kemantapan hati dan rasa nyaman serta kepercayaan terhadap calon suami. Sejujurnya ini yg paling penting buat aku karena aku tidak bisa menerima sesuatu yg bertentangan dengan hati, apalagi soal pendamping hidup. Buat aku menikah itu artinya aku memberikan dan mempercayakan diri dan hidupku kepada orang lain, karenanya aku harus merasa nyaman dengan pasanganku itu.

3. Mendapatkan restu orangtua, karena ridho Allah SWT adalah ridho orangtua.

Unknown said... Reply Comment

Arie Pradianita | @APradianita

https://twitter.com/APradianita/status/722054438450376705

Hal-hal penting yang harus saya pikirkan sebelum memutuskan untuk menikah:

1. Ikuti kata hati saya.
Saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan seorang pria. Dia mungkin sudah memenuhi kriteria untuk menjadi seorang suami idaman. Namun sayangnya saya masih belum yakin dengan orang tersebut. Saya mencoba untuk meminta pendapat dan saran dari orang lain. Setelah itu, pikirkan baik-baik dan dengarkan kata hati saya. Jika saya tidak yakin, sebaiknya saya mundur.

2. Syukuri semua hal yang telah saya miliki.
Satu hal yang perlu saya ingat adalah bagaimana caranya orang lain bisa suka pada saya jika saya sendiri tidak suka pada diri saya sendiri. Oleh karena itu, cintai diri saya, syukuri semua hal yang telah saya miliki dan berbahagia dengan semua hal tersebut. Jika saya sudah merasakan hal ini, maka orang lainpun akan merasa nyaman saat bersama saya.

3. Menerima apa adanya.
Sebelum menikah, pastikan saya telah menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh pasangan. Karena kehidupan setelah pernikahan akan jauh lebih sulit dan lebih menantang. Karena biasanya “sifat asli” dari pasangan baru akan terungkap setelah menikah. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya konflik berkepanjangan atau bahkan perpisahan, sebaiknya saya mencoba untuk menerima kelebihan dan kekurangan pasangan dari sekarang.

4. Perasaan adalah hal yang tidak bisa dipaksakan.
Saya sudah sering mendengar bahwa cinta itu buta, kita tidak pernah tahu dengan siapa kita jatuh cinta. Bisa saja saya jatuh cinta pada orang yang tidak pernah saya duga sebelumnya dan bisa saja cinta itu datang tanpa saya ketahui alasannya. Hal itu adalah salah satu tanda bahwa orang itulah jodoh saya. Karena saya tidak tahu kenapa rasa cinta itu bisa muncul tanpa alasan yang jelas. Hal seperti ini adalah salah satu dari sekian hal yang saya perlukan dalam berumah tangga nanti. Karena bisa saja rasa cinta saya akan memudar setelah usia pernikahan sudah cukup lama.

Unknown said... Reply Comment

Nama: Ari
twitter: @tiarizee
Link share: https://twitter.com/tiarizee/status/722060401802776576

Yang jelas kesiapan diri kak. Karena menurutku pernikahan itu benar-benar hal sakral. Perlu pemikiran panjang untuk berani melangkah ke jenjang ini. Dan kesiapan pada diri sendiri adalah hal utama yang dibutuhkan. Karena setelah menikah aku akan menjalani kehidupan yang benar-benar baru. Menjadi seorang istri yang baik, mengabdi kepada suami, menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak, merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang istri. Dan menikah itu berarti aku harus sudah siap melepas segalanya, dari yang dulunya bisa keluar bebas keluyuran kemana-mana, jadi harus ingat pulang demi memasak untuk makan suami dirumah. Dari yang asal memilih teman, harus dipertimbangkan kembali karena kita istri orang, pun dalam beraktivitas sehari-hari. Ini semua bukan paksaan, bukan? Itu merupakan kewajiban seorang istri, dan aku pikir butuh kesiapan diri yang matang baik secara mental maupun fisik.

Lalu kemantapan hati. Tahu Pre-Wedding Blues kan? Keraguan yang biasanya muncul pada seseorang yang akan menikah. Jujur, ragu itu adalah bumerang terbesar dalam hubungan,menurutku. Karena dari setitik keraguan saja, apapun bisa terjadi termasuk batalnya sebuah pernikahan. Aku akan memantapkan hatiku terlebih dahulu, seperti meminimalisir rasa curiga dan tidak percaya serta siap secara emosi dari bayangan masa lalu. Curiga dan ketidakpercayaan bukanlah hal yang posesif menurutku, namun sebagai perempuan pastilah terkadang kita merasakannya. Aku termasuk orang yang tidak mudah percaya dengan orang lain. Butuh waktu yang sangat lama untukku mempercayai orang lain, dan kepadanya, aku ingin memberikan seluruh diriku. Termasuk sebuah kepercayaan. Lalu siap secara emosi untuk terlepas dari bayangan masa lalu. Setelah menikah, tidak ada kata mundur bagiku. Seberat apapun, segila apapun nanti pernikahanku, aku akan mencoba yang terbaik untuk kelangsungan pernikahan tersebut. Aku tidak ingin saat nanti tiba masa jenuh dalam pernikahan kami, masa lalu itu datang kembali, seolah ingin menawarkan hal yang tidak sepatutnya aku pikirkan apalagi inginkan. Aku tidak mau hal itu terjadi,karenanya aku ingin memantapkan hatiku terlebih dahulu kepada orang yang akan menjadi pendamping seumur hidupku kelak.

Selan itu, restu orangtua juga menjadi pertimbanganku selanjutnya. Menurutku restu orangtua adalah berkah, dan aku tidak ingin hal ini luput dari pernikahanku kelak. Karena aku tahu restu dari orang tua adalah segalanya, karena mereka pasti sudah memikirkan matang-matang untuk melepas anak gadisnya pada lelaki lain, termasuk dalam hal ekonomi, agama, budaya, dan segala latar belakangnya. Karena perbedaan sering menghambat, bukan? Apalagi dalam penyatuan dua keluarga.

Terakhir, finansial. Mencoba untuk realistis, karena pernikahan bukan hanya melulu tentang cinta. Apakah ia orang yang cukup mandiri dan bisa mempertanggungjawabkan kewajibannya untuk membiayai keluarganya kelak. Mandiri, karena aku tidak ingin masalah finansial keluargaku disokong oleh orang tua kami. Ini adalah tanggung jawab kami sebagai suami istri. Yah walaupun aku juga berniat untuk tetap bekerja nantinya, tapi memang sudah kodratnya kepala rumah tangga adalah tulang punggung keluarga, bukan? Aku tidak mencari yang mapan sekelas CEO perusahaan, tidak. Aku realistis dalam menilai kehidupan sekarang, karena aku tahu mencari pekerjaan sekarang sangatlah sulit. Yang kubutuhkan adalah kesiapan dan tanggung jawab suamiku dalam hal ini nantinya.

Unknown said... Reply Comment

Bintang Maharani
@btgmr
https://twitter.com/btgmr/status/722068575826087936

Buat saya yang paling krusial adalah restu dari orangtua dan keluarga. Terutama dari kedua belah pihak. Untuk kriteria lain seperti finansial, agama, sifat, kerelaan hati, dan segala macem itu tentu sudah masuk dalam pertimbangan wajib dan checked semua. Kalau tidak terpenuhi atau sreg di hati, ya tentunya saya tidak akan memprioritaskan dia untuk menjadi calon suami saya. Saya rasa orangtua dan keluarga tidak akan kasih restu kalau si calon ini tidak memenuhi kriteria lelaki baik-baik di mata mereka. Kalau mereka sudah restu, insya Allah semua bisa berjalan baik dan lancar.

Lagipula saya nggak mau nikah sama orang yang dicintai tapi nggak direstui orangtua meski sudah diyakinkan beberapa kali, karena saya nggak mau kalau nanti ada acara silaturahmi malah dimusuhi atau merasa terasingkan oleh keluarga sendiri gara-gara datang sama pasangan saya yang mereka nggak sukai. Hehehe :D

Unknown said... Reply Comment

Nama: Hanisa Aprilia
Twitter : @hanisaaprilia
Link share: https://twitter.com/hanisaaprilia/status/722074036457447425

Bismillahirohmanirahim..

Apa yang menjadi pertimbanganku sebelum memutuskan untuk menikah?

Hmm.. Aku rasa banyak sekali yg akan ku pertimbangkan. Mungkin adalah hal-hal ini yang akan sangat ku pertimbangkan sebelum aku memutuskan untuk menikah..

1). Kesiapan. Aku rasa hal yang ku sebut paling pertama ini yang paling harus ku pertimbangkan sebelum menikah. Kesiapan, baik secara mental, fisik, materi juga spiritual. Karena, aku pikir menikah itu bukan hanya saat aku duduk di pelaminan aja, tapi menikah itu adalah menikmati waktu bersama orang yang sudah kita pilih, dan menyusuri jalan terbaik-Nya bersama #tsaah.

2). Calon suami. Ketika aku sudah merasa siap, aku akan menerima siapapun orang yang bermaksud baik padaku. Entah melalui jalan perjodohan —seperti Afnan dan Hessa, atau memang bersama orang yang sudah lama ku kenal —seperti Darwin dan Vara.
Aku rasa untuk kandidat calon suami pun akan menjadi pertimbangan, seperti aku harus tahu jelas tentang keadaan keluarganya—mereka nyata atau hanya fiksinya dia, juga tentang status pekerjaannya—mereka bukan pengedar narkoba/ hal haram lainnya, anggota isis atau tukang bom bunuh diri.

3). Usia. Misal, misal ya ini, *maaf kalo ada yang tersinggung* saat aku berada pada usia 20-30 akhir tapi aku belum menikah, maka usia akan jadi pertimbanganku. Karena, aku sebagai perempuan punya masa expired, masa dimana aku sudah tidak dianjurkan atau menjadi sebuah kendala jika aku ingin memiliki keturunan. Semua orang ingin punya keturunan, iya kan? Maka dari itu, usia akan sangat ku pertimbangkan. Jikalau, nanti saat aku berada pada usia 20-30 akhir aku belum menikah—entah karena masa laluku atau karena sulitnya menentukan cocok pada setiap orang yang ku temui— aku akan mencoba membuka mataku selabar-lebarnya, menyadari kalo aku gak bisa seterusnya hidup mandiri, menyadari kalo aku ingin dan harus punya keturunan.

4). Biaya. Zaman sekarang sepertinya kebanyakan dari mereka menjadikan biaya sebagai pertimbangan sebelum menikah. Ada kalimat 'menikah itu murah, yang bikin mahal itu resepsinya.' Aku rasa, resepsi adalah sebuah rasa ucapan syukur juga berbagi kebahagian pada keluarga, teman, tetangga, bahkan kerabat. Bukan hanya sekedar untuk pamer belaka sih. Kan, menikah adalah hari yang akan mereka alami satu kali dalam seumur hidupnya. Jadi wajar, mereka akan habis-habisan dan menyiapkan segala yang terbaik untuk acara resepsinya.

panjang ya ternyata hehe ^^
Begitulah pendapatku, thank you for give me a chance. Wish me luck!😝 *korban gagal GA MBM 3x😂😂😂😂*

Kitty said... Reply Comment

Nama: Kitty
Akun twitter: @womomfey
Link Share: https://twitter.com/WoMomFey/status/722162503778590720



"Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?"


Jawaban:

Pastinya ada begitu banyak pertimbangan sebelum saya dulu akhirnya mengucap janji setia di hadapan Tuhan dan jemaatNya kepada pria yang saat ini telah menjadi papa dari anak-anak kami:

1. Pasangan yang LUAR BIASA mencintai TUHAN
>> Mungkin terdengar naif dan klise, tapi ya begitulah adanya. Aku percaya jika seorang pria yang LUAR BIASA mencintai TUHAN itu juga akan mampu menjaga hati yang kupercayakan padanya. Aku meyakini, seorang pria yang mengasihi TUHAN diatas segalanya pasti juga secara otomatis akan memberikan segenap cintanya bagi keluarganya, dalam hal ini termasuk istri dan anak-anaknya kelak. Jika dengan TUHAN yang tidak kelihatan saja ia bisa begitu mencintaiNYA, apalagi dengan keluarga kecilnya kelak. Ia akan mampu membawa keluarga kecilnya mencintai Sang Khalik.

2. Pasangan yang menempatkan Ibunya dengan Istimewa
>> Yup!! Aku selalu meyakini bahwa seorang pria yang memuja Ibunya dan menempatkan wanita itu secara istimewa adalah pria yang mampu membahagiakan keluarganya. Bukan berarti aku menyukai anak mami loh! Bukan itu intinya. Seorang pria tidak harus menjadi anak mami untuk bisa memenuhi poin no. 2 ini. Aku selalu kagum pada sosok pria yang mengistimewakan Ibunya karena itu artinya dia menyadari benar peran Ibu dalam hidupnya. Gak takut merasa tersisih nanti dengan Ibu Mertua? Hahaha. Ya enggak dong! Asalkan kita mengasihi suami kita kelak, pasti Ibu Mertua juga otomatis bangga dan sayang kok sama anak menantu yang sudah memutuskan untuk mendampingi hidup anak laki-lakinya.

3. Pasangan yang mau terbuka dan menempatkan komunikasi sebagai hal penting dalam berkeluarga
>> Ada begitu banyak kehidupan pernikahan yang kandas hanya gara-gara perihal komunikasi yang tak terjalin dengan baik. Buatku, sebuah pernikahan yang baik dan langgeng itu membutuhkan keterbukaan dan komunikasi 2 arah yang seimbang. Seorang yang introvert bukan berarti tidak dapat menjadi pasangan yang baik loh! Selama pria introvert itu mau terbuka dengan istrinya, maka tentu mereka takkan menghadapi kendala berarti dalam pernikahan. Hal ini juga terjadi kok dalam rumah tanggaku. Suamiku termasuk tipe cowo pendiam, tapi urusan komunikasi dan keterbukaan kami selalu mengutamakan keduanya.

4. Pasangan yang mau terus belajar menerima, memaafkan dan dimaafkan
>> Aku gak percaya sama yang namanya pernikahan sempurna! Menurutku, sebuah kehidupan pernikahan yang baik itu justru dibangun atas dasar saling percaya, sama2 berusaha memegang teguh komitmen yang sudah diucapkan, menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya, serta berani memaafkan dan membuka diri untuk mendapatkan maaf dari pasangannya. Ya! Kita sudah sering kali mendengar klo cowo itu ego dan gengsinya gede sehingga gak jarang mereka ogah minta maaf, tapi dalam sebuah pernikahan yang baik, urusan memaafkan dan dimaafkan ini sangat penting loh!
Suamiku sebenernya termasuk tipe yang lumayan tinggi ego dan gengsinya, butuh waktu baginya untuk urusan dimaafkan ini. Namun karena ia mau terus belajar dan berusaha memegang teguh komitmen pernikahan kami, maka ia selalu bisa memberikan diri untuk dimaafkan. Kalau urusan memberi maaf justru dia ini murah hati :)


Sebenarnya masih ada pertimbangan lainnya dalam hal memutuskan menikah ini, tapi 4 poin di atas adalah hal2 utama yang jadi pertimbanganku.

Unknown said... Reply Comment

Nama: Fetreiscia Frida
Twitter: @fetreisciafrisa
Link share: https://twitter.com/fetreisciafrida/status/722297221576691713

Keadaan mental. Itu yang pertama. Jangan sampe waktu menikah masih ada yang bertingkah kaya anak kecil. Egois atau maunya sendiri. Karena kalau sudah menikah berarti bukan hidup untuk diri aendiri lagi melainkan sudah hidup untuk keluarga. Jadi harus dipastikan apakah masing2 sudah punya mental yang kuat untuk membina pernikahan.

Kedua, keadaan ekonomi. Karena kalau audah menikah aku maunya hidup mandiri. Sama suami aja, gamau susahin orangtua lagi. Masa udah nikah tetep gangguin orangtua. Maka dari itu setidaknya ketika menikah saya dan suami sudah punya pekerjaan tetap dan ekonomi kami berdua dikatakan cukup.

ketiga, kemantapan hati. harus, kudu, wajib hukumnya. Karena menikah bukan lagi kaya pacaran yang kalo bosen putus cari baru. Aku mau dalam hidupku hanya sekali melangsungkan pernikahan. Aku mau janji pernikahan yng diucapkan didepan altar dan dihadapan Tuhan Yesus benar2 kami lakukan. Suka dan duka ditanggung bersama. Dan berpisah hanya ketika maut memisahkan. Aku gamau sampai ada perceraian atau perselingkuhan di dalam pernikahanku ini. Karena aku orang yang memegang prinaip ini dalam pernikahan bahwa apa yang telah disatukan oleh Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Perceraian dan perselingkuhan menurutku bisa terjadi karena pondasi awalnya ketika mau menikah ga kuat. Jadi harus sama2 memantapkan hati ketika memilih untuk memasuki jalur pernikahan. Harus siap menerima segala hal. Karena apa yang terjadi di dalam pernikahan itu pada dasarnya adalah sebuah ujian untuk menjadi keluarga yang makin baik lagi. Ya jadi harus dihadapi bersama, bukan oleh satu orang saja.

Unknown said... Reply Comment

Nama : Ana Bahtera
twitter: @anabahtera
link share: https://mobile.twitter.com/#!/anabahtera/status/722349675676700673

Menikah??
bnyak hal yg harus dpertimbangkan untuk melangkah ke pelaminan.
1. Keyakinan aku akan pasangan yg siap membimbing kearah yg benar dan juga keyakinan aku tuk bisa mengimbangi dia yg kelak akan menjadi imam di dlam keluarga.

2. Rasa ikhlas akan berubahnya status dari anak ibu dan bapak menjadi seorang istri dan pastinya menantu dkeluarganya.

3. Kesabaran untuk menengahi perbedaan dan kerikil2 tajam yg pastinya akan datang selama perjalanan kebersamaan.

4. Rasa nyaman yg akan terbina sampai tu, sampai kita bersama tak paham apa2 tentang canggihnya dunia namun bisa mengandalkan cinta yg ada.

Unknown said... Reply Comment

Nama: Agnes
Twitter: @its_nessie
Link Share:
https://mobile.twitter.com/its_nessie/status/722395343090921477

Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?

Layaknya warna kaver novel My Beautiful Marriage. Azure yang artinya "Biru Langit" melambangkan kedamaian.
KEDAMAIAN. Saya ingin ketika saya akan menikah masing-masing dari kami sudah harus bisa berdamai dengan masa lalu. Saya tau setiap dari kita pasti memiliki masa lalu tidakkah jalan satu-satunya untuk menaklukkannya adalah dengan berdamai.
Kedamaian juga saya butuhkan untuk memaafkan dan melupakan masalah-masalah yg pernah meyinggahi hubungan kami dengan begitu kami berdua dapat membuka lembaran baru dan menuliskan kisah kami didalam kertas putih kosong yang baru.

Anak kecil yang belajar mengayuh sepeda roda dua. Tidakkah anak tsb membutuhkan KESEIMBANGAN? Agar dapat terus menyusuri ruas jalan untuk menemukan akhir kebahagian? Seperti sepasang kekasih yang akan meniti kehidupan rumah tangga. Sisi negatif dan positif dari masing-masing pasangan harus seimbang. Bagaimana cara menyeimbangkannya? Ya dengan menutup kekurangan dan kelebihan satu sama lain dengan begitu tdk ada pihak yg terlihat sangat menonjol ataupun lemah.

KECINTAAN. Bagaikan warna merah bunga didalam keranjang kaver novel. Jujur saya butuh cinta dari pasangan saya, tidak mungkin saya menikah tanpa rasa cinta terkadang orang bilang cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.
Tapi, salah satu pertimbangan saya sebelum memutuskan untuk menikah adalah dengan cinta. Dia cinta saya, saya cinta dia! Bahagia atau tidaknya urusan nanti yg penting ada satu kata yg selalu mengingatkan saya akan kebahagiaan "cinta".

Thats all.

Unknown said... Reply Comment

nama lengkap: Ari Harianto
twitter: @Arikun7
Domisili : Semarang
link share : https://twitter.com/AriKun7/status/722405719832571905


"Apa yang menjadi pertimbanganmu sebelum memutuskan untuk menikah?"

1. )Hartanya
Bukannya saya materialistis tapi yang saya maksudkan disini adalah kemapanannya .Seorang wanita mandiri yang telah mapan dan siap untuk hanya menyandarkan semua bebannya pada saya tanpa menginginkan campur tangan orang tua .Dia yang dewasa ,bisa memanajemen keuangan , dan saya yakin bukan wanita yang materialistis karena apa pun sudah dimilikinya.Bukan berarti saya pelit loh ya .Tapi saya sangat tidak menyukai wanita yang bawel minta ini itu ,saya lebih senang saya mengetahui sendiri keinginannya dan memberikannnya lalu membuat kejutan .

2. )Keturunannya
Apa sih inti dari sebuah pernikahan kalau bukan anak ? Saya pun ingin memiliki keturunan dari wanita yang saya nikahi .Keturunan dari wanita baik - baik yang saya nikahi ,wanita yang bisa mendidik dan mengajar anak - anak kami kelak .Wanita yang menyiapkan anak - anak kami dengan kualitas baik.

3. )Kecantikannya
Jujur sajalah kalau cinta itu dari mata turun ke hati .Dan siapapun pria didunia ini pasti selalu menyukai wanita cantik.Tapi tentu saja semua wanita itu cantik dan yang namanya cantik itu relatif . Sebaik-baik wanita adalah yang membuat suaminya bergembira ketika memandangnya karena keelokan dan pesona wajahnya. Jadi coba deh tanya pada diri sendiri orang seperti apa yang anda inginkan untuk dinikahi ? pasti setiap orang mengharapkan memiliki pendamping yang bagus rupanya .


4. Agamanya
Agama adalah hal terpenting yang harus diutamakan ketika memilih pendamping .Percuma kaya ,cantik ,dari keturunan darah biru tapi agamanya Nol .Wanita yang memegang teguh agamanya pasti memiliki rasa malu, penyabar, jujur, lembut dalam bertutur kata dan sifat-sifat mulia yang lainnya.Wanita seperti ini yang mampu membangun keharmonisan dan pernikahan tanpa tanggal kadaluarsa .

Bagi saya pernikahan adalah hal sakral yang terjadi seumur hidup .Saya hanya ingin menikah dengan seorang wanita dengan kualitas seperti yang tadi saya tuliskan dan bagi saya syarat wajibnya adalah dari agama yang lainnya adalah nomer kesekian tapi kalau dikasih lengkap mah siapa sih yang nggak bakalan jatuh cinta ... yuk nikah ! hahaha :)

Wish me luck

Unknown said... Reply Comment

Nama : Ratih M
Twitter : @Jju_naa
Link :https://twitter.com/Jju_naa/status/722411514397720576



1) Calon bisa lulus tahap verifikasi versi orang tua aku.
intinya sih, dapat restu. Karena kalau tahap ini sudah lewat, berarti si calon ini berhasil meyakinkan dan memenuhi kriteria versi ortu. Karena dengan keberaniannya untuk menemui ortu, berarti dia sudah lolos tahap verifikasi versi aku :D (dapet lampu hijau dari akunya)


3) Dia bisa menerima tanggung jawab aku sama ortu & kedua adik aku.
Karena aku anak tertua, jadi kedua adik aku ini jelas jadi tanggung jawab aku kedepannya(Ya bisa dlm hal finansial). Nah, kan ada orang yang kalau sudah nikah ga mau istrinya punya tanggungan kaya gini.Jadi, kalau dia ga mau direpotin, ya dia harus nunggu sampai tanggung jawab aku itu agak ringanan, karena sampai kapanpun pengorbanan ortu itu ga bisa kita bayar dengan lunas.
(Ya, seandainya dia mau direpotin, aku juga akan berusaha agar ga terlalu menomor 1 kan keluarga. Suami ttp no 1)

Intinya sih, kalau bisa. Sebelum aku nikah nantinya, minimal aku bisa ngebahagiain ortu sama adik aku dulu (Mereka bisa nyicip/menikmat uang hasil kerja aku dulu :D )

*ah bahasanya ribet...

Itu aja, karena hal yang lainnya bisa kami rembukan bersama nantinya.

Unknown said... Reply Comment

Ini link share yg lengkap :D (Yg atas ga mention @elexmedia)
https://twitter.com/Jju_naa/status/722436737759182849

Semut Simud said... Reply Comment

Nama : Bidayatul Khoiriyah
Twitter : @iry3424
Domisili : Tuban Jawa Timur
Link Share : https://twitter.com/Iry3424/status/722438706188005376
Jawaban : Bismillah. . .
Sejatinya semua orang tak menginginkan pernikahan yang berantakan dan berulangkali, namun sebaliknya manusia menginginkan pernikahan sekali seumur hidup dan hidup harmonis hingga akhir hayat.
Dari fakta tersebut muncullah istilah pertimbangan sebelum menikah, namun tak semua pertimbangan menunjukkan hasil yang maksimal dan tak semua hal yang tak dipertimbangkan itu hasilnya baik.
Menurutku, pertimbangan sebelum menikah adalah seseorang yang pas dengan kita, bagai botol dan tutupnya. Karena mencari orang yang sempurna didunia ini tak akan pernah ada, tapi orang yang pas dengan kita akan selau ada. Dan yang bisa menilai itu kita sendiri bukan teman maupun sahabat kita. Dalam pemikiranku, pertimbanganku sebelum menikah adalah SEIMAN denganku, karena jika kita menikah dngan orang yang tidak seiman sulit bagi kita untuk melanjutkan hubungan kedepanya. Dan yang Kedua adalah Ridho orang Tua kita bayangkan saja jika seseorang calon kita itu berkelakuan buruk, akankah orang tua kita ridho, kita menghabiskan sisa hidup kita dengan orang tersebut?. Dan jika orang tua kita sudah mengijinan kita (Meridhoi kita) untuk menikah dengan orang tersebut, berarti orang tua sudah memikirkan yang terbaik buat kita kedepanya nanti. Dan memilihkn kita terbaik dari yang terbaik.
Karena Ridho Allahbergantung pada Ridho orang tua. Jika orang tua Ridho, InsyaAllah kehidupan kita nanti diduna dan diakhirat akan dimudahkan oeh Allah *Aminn*

Blog contents © Book world 2010. Blogger Theme by Nymphont.